Selasa, 28 Juni 2011

Remaja dan seksualitas

adosexKehamilan tak diinginkan atau KTD di Pulau Dewata mencapai 500 kasus selama September 2008 hingga September 2009, atau rata-rata 41 kasus dalam satu bulan. Demikian diungkap Kita Sayang Remaja (Kisara) Bali.
“Kasus akibat perilaku seks bebas pada kalangan remaja ini paling banyak terdapat di Kabupaten Badung dan Denpasar,” kata Koordinator Kisara Bali dr I Nyoman Sutarsa, SKed, di sela-sela Deklarasi Remaja Bali di Lapangan Puputan Badung, Bali, Sabtu (12/9) malam. (www.kompas.com)
Tulisan diatas merupakan contoh kecil tentang kehidupan remaja yang ada disekitar kita, khususnya di Bali. Tidak hanya itu, saya juga menemukan contoh dari daerah lain seperti yang dikutip oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia atau PKBI. Pada tahun 2001, PKBI melakukan penelitian di lima kota (Kupang, Palembang, Singkawang, Cirebon, dan Tasikmalaya) dan hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 16,46 % dari remaja berumur 15 sampai 24 tahun mengaku telah melakukan hubungan seksual. Perilaku seksual seperti yang diungkap diatas memang tidak hanya dilakukan oleh remaja. Namun demikian, sepertinya berita tentang perilaku seksual remaja seolah tidak pernah habis dimuat diberbagai media.
Sebelum membahas lebih dalam, saya akan terlebih dahulu menjelakan bahwa remaja yang akan saya bahas adalah individu yang memiliki rentang usia dari 11 hingga 24 tahun. Sedangkan mengenai perilaku seksual, memiliki definisi atau arti sebagai aktivitas fisik yang dilakukan sebagai ekspresi dari afeksi atau hasrat seksual yang dilakukan dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenisnya (Ariyanto, 2008). Jenis-jenis perilaku seksual pun memiliki rentang mulai dari pegangan tangan sampai dengan sexual intercourse atau penetrasi penis kedalam vagina. Berkaitan dengan perilaku seksual remaja, Sarwono (2006) menjelaskan bahwa perilaku seksual tersebut terjadi karena beberapa alasan.
Perubahan hormon yang berpengaruh pada seksualitas. Seiring dengan bertumbuhnya individu, berbagai perubahan terjadi. Tumbuhnya payudara, bertambahnya massa otot, tumbuhnya jakun merupakan hal yang tampak. Selain perubahan tersebut, kadar hormon testosterone yang berperan aktif dalam seksualitas juga berperan signifikan sehingga muncul hasrat seksual yang butuh disalurkan. Pada usia ini, tidak semua remaja mampu mengontrol hasrat seksual yang dimilikinya. Ada yang menyalurkan dengan bermasturbasi ada pula yang menyalurkan dengan pasangan atau bahkan dengan pelacur. Mengenai persentasenya, data PKBI yang telah dijabarkan diatas juga menjelaskan bahwa dari remaja tersebut, 74,89 % melakukan hubungan seksual pertama kali dengan pacarnya dan sisanya melakukan hubungan seksual dengan pelacur, teman dan bahkan ada yang mengaku melakukannya dengan saudara.
Penundaan usia perkawinan. Untuk bisa menyalurkan hasrat seksual yang dimiliki, dibutuhkan lembaga pernikahan yang sah. Meskipun demikian, pernikahan bukan sesuatu yang mudah dilaksanakan, dibutuhkan berbagai persiapan baik secara fisik, mental, dan materi. Kesadaran akan ‘tingginya persyaratan’ menikah tersebut membuat usia untuk menikah semakin bertambah, khususnya dikota besar. Mereka lebih memilih untuk terlebih dahulu mengumpulkan materi sehingga keluarga bisa hidup layak. Meskipun demikian, remaja dibeberapa daerah diIndonesia masih banyak yang menikah muda dengan berbagai alasan, alasan yang paling sering muncul adalah untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi (dosa, takut hamil diluar nikah).
Adanya norma agama. Pada beberapa individu, adanya larangan utuk melakukan sesuatu malah menyebabkan timbulnya rasa ingin tahu atas hal tersebut, tidak terkecuali untuk seksualitas. Larangan untuk melakukan aktivitas seksual dapat menyebabkan remaja mencari sendiri mengenai seksualitas. Tidak jarang untuk memuaskan keingintahuan tersebut remaja melakukan aktivitas seksual yang dilarang agama.
Tingginya dorongan media yang menyebabkan munculnya rasa ingin tahu. Dengan semakin mudahnya akses informasi, khususnya internet yang dapat menyediakan stimulus atau rangsangan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hasrat seksual, maka hasrat seksual yang telah ada semakin ‘diasah’ oleh pornografi yang dapat dengan mudah ditemui diinternet. Ilma (dalam Handayani, 2008) menemukan bahwa Indonesia merupakan menempati posisi ketujuh untuk negara dengan pencarian kata kunci ’sex’ terbanyak di dunia. Setiap detiknya 28.258 pengguna internet di dunia mengakses konten pornografi, dengan 80% user-nya berasal dari Indonesia.Tidak hanya internet, hal-hal yang dapat memicu libido atau hasrat seksual juga dapat dengan mudah ditemui dikios koran disekitar kita.
Sosialisasi seksualitas yang tidak sempurna melalui orang tua. Dalam perbincangan sehari-hari pun, topik seksualitas bukanlah topik yang umum dibicarakan, tidak terkecuali dalam perbincangan antara orang tua dan anak. Padahal menurut Sarwono (2006) komunikasi orang tua dan anak dapat menentukan seberapa besar kemungkinan anak tersebut melakukan tindakan seksual, semakin rendah komunikasi tersebut, maka akan semakin besar anak tersebut melakukan tindakan seksual. Rice (1999) menjelaskan bahwa pada usia remaja, kebutuhan emosional individu beralih dari orang tua kepada teman sebaya. Pada masa ini, teman sebaya juga merupakan sumber informasi. Tidak terkecuali dalam perilaku seksual, sayangnya informasi yang diberikan oleh teman sebaya cenderung salah (Sarwono, 2006).
Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa teman sebaya memainkan peran yang signifikan dalam kehidupan remaja, tidak terkecuali dalam hal seksualitas. Newcomb, Huba, and Hubler (1986) mengatakan bahwa perilaku seksual juga dipengaruhi secara positif orang teman sebaya yang juga aktif secara seksual. Jika seorang remaja memiliki teman yang aktif secara seksual maka akan semakin besar pula kemungkinan remaja tersebut untuk juga aktif secara seksual mengingat bahwa pada usia tersebut remaja ingin diterima oleh lingkungannya.
Mengingat semakin tingginya perilaku seksual yang dilakukan remaja akhir-akhir ini, diharapkan faktor-faktor yang telah disebutkan diatas mampu membuat kita melakukan beberapa tindakan preventif sehingga akibat-akibat buruk dari perilaku seksual dapat ditekan. Adapun tindakan-tindakan preventif tersebut dapat berupa diskusi seksualitas yang dimulai dari keluarga hingga seminar sekolah sehingga remaja menjadi lebih siap menghadapi tahap perkembangannya.
Nova Ariyanto JoNo
Sumber:
Ariyanto, N. (2008). Hubungan citra tubuh dengan perilaku seksual dalam berpacaran pada remaja putri. Depok: F. Psi UI.
Handayani, A.T. (2008). Hubungan antara sikap terhadap hubungan seksual, masturbasi, pornografi dan homoseksual dengan religiusitas pada dewasa muda muslim. Depok: F Psi UI.
Newcomb, M.D., Huba, G.J., & Bentler, P.M. (1986). Determinants of Sexual and Dating Behavior Among Adolescent. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 50, No. 2,428-438. January 18, 2008. ABI/INFORM Global (APA) database.
Sarwono, S.W. (2006). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.
Gambar oleh Aditya Mahendra, mahasiswa yang sedang melanjutkan studi di program magister profesi UI yang juga aktif mendalami fotografi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar